{"id":3394,"date":"2025-01-06T17:41:59","date_gmt":"2025-01-06T10:41:59","guid":{"rendered":"https:\/\/buyaelvisyam.id\/?p=3394"},"modified":"2025-01-06T17:41:59","modified_gmt":"2025-01-06T10:41:59","slug":"kitab-al-atimah-dalam-sahih-muslim-bab-bolehnya-memakan-bawang-putih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/2025\/01\/06\/kitab-al-atimah-dalam-sahih-muslim-bab-bolehnya-memakan-bawang-putih\/","title":{"rendered":"Kitab Al-At&#8217;imah dalam Sahih Muslim &#8211; Bab Bolehnya memakan bawang putih"},"content":{"rendered":"\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><em>Bismill\u0101hirra\u1e25m\u0101nirra\u1e25\u012bm<\/em><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kajian Hadis: Hukum Memakan Bawang Putih dan Etika Terkait<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan dari Kitab <em>Al-At&#8217;imah<\/em> dalam Sahih Muslim<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berikut adalah pembahasan terstruktur mengenai hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum memakan bawang putih, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Kitab <em>Al-At&#8217;imah<\/em> (Kitab Makanan) dari Sahih Muslim.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pendahuluan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kajian ini membahas bab tentang kebolehan memakan bawang putih (<strong>\u0627\u0644\u062b\u064f\u0651\u0648\u0645\u064f<\/strong>) dan anjuran untuk tidak memakannya bagi seseorang yang hendak berinteraksi dengan orang yang lebih tua atau menghadiri perkumpulan. Pembahasan didasarkan pada dua hadis utama yang diriwayatkan dari sahabat mulia, Abu Ayyub al-Anshari <strong>\u0623\u064e\u0628\u064f\u0648 \u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0648\u0628\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0646\u0652\u0635\u064e\u0627\u0631\u0650\u064a\u064f\u0651<\/strong> <em>ra\u1e0diyall\u0101hu &#8216;anhu<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Hadis dan Penjelasannya<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Hadis Pertama: Penolakan Nabi \ufdfa Memakan Bawang Putih<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari <strong>\u0623\u064e\u0628\u064f\u0648 \u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0648\u0628\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0646\u0652\u0635\u064e\u0627\u0631\u0650\u064a\u064f\u0651<\/strong> <em>ra\u1e0diyall\u0101hu &#8216;anhu<\/em>, ia berkata:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>&#8220;Rasulullah \ufdfa biasanya apabila diberi makanan, beliau akan memakan sebagiannya dan mengirimkan sisanya kepadaku. Suatu hari, beliau mengirimkan sisa makanan yang sama sekali tidak disentuhnya. Aku pun bertanya kepada beliau, &#8216;Apakah bawang putih itu haram (<strong>\u0623\u064e\u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u064c \u0647\u064f\u0648\u064e<\/strong>)?&#8217;. Beliau menjawab, &#8216;Tidak, akan tetapi aku tidak menyukainya karena aromanya&#8217; (<strong>\u0644\u064e\u0627\u060c \u0648\u064e\u0644\u064e\u0643\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0623\u064e\u0643\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f\u0647\u064f<\/strong>). Maka Abu Ayyub berkata, &#8216;Sesungguhnya aku membenci apa yang engkau benci&#8217; (<strong>\u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0623\u064e\u0643\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0631\u0650\u0647\u0652\u062a\u064e<\/strong>).&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dalam hadis ini, Rasulullah \ufdfa menolak makanan bukan karena keharamannya, melainkan karena aroma bawang putih yang tidak beliau sukai. Sikap Abu Ayyub al-Anshari menunjukkan dalamnya kecintaan dan keinginannya untuk meneladani Rasulullah \ufdfa, bahkan dalam hal yang disukai dan tidak disukai.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Hadis Kedua: Kisah Abu Ayyub dan Wahyu<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Dalam riwayat lain yang lebih terperinci, dikisahkan bahwa Nabi \ufdfa pernah singgah di rumah Abu Ayyub. Nabi \ufdfa tinggal di lantai bawah, sementara Abu Ayyub dan keluarganya di lantai atas. Suatu malam, Abu Ayyub terbangun dan merasa tidak nyaman seraya berkata, &#8220;Kita berjalan di atas kepala Rasulullah \ufdfa&#8221; (<strong>\u0646\u064e\u0645\u0652\u0634\u0650\u064a \u0641\u064e\u0648\u0652\u0642\u064e \u0631\u064e\u0623\u0652\u0633\u0650 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \ufdfa<\/strong>). Karena adab dan penghormatan yang tinggi, mereka pun pindah dan tidur di pinggir ruangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, Abu Ayyub meminta Nabi \ufdfa untuk pindah ke lantai atas, meskipun Nabi \ufdfa berpendapat bahwa lantai bawah lebih nyaman (<strong>\u0627\u0644\u0633\u064f\u0651\u0641\u0652\u0644\u064f \u0623\u064e\u0631\u0652\u0641\u064e\u0642\u064f<\/strong>) baginya dan para sahabat yang hendak menemuinya. Abu Ayyub bersikeras dengan mengatakan, &#8220;Aku tidak akan mau berada di atap sementara engkau berada di bawahnya.&#8221; Akhirnya, Nabi \ufdfa pun pindah ke lantai atas.<\/p>\n\n\n\n<p>Abu Ayyub biasa membuatkan makanan untuk Nabi \ufdfa. Setiap kali makanan itu dikembalikan, ia akan mencari bekas jari-jemari Nabi \ufdfa untuk mencari keberkahan (<strong>\u062a\u064e\u0628\u064e\u0631\u064f\u0651\u0643\u064c<\/strong>). Suatu ketika, ia membuatkan makanan yang mengandung bawang putih. Saat makanan itu dikembalikan, ia diberitahu bahwa Nabi \ufdfa tidak memakannya (<strong>\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0623\u0652\u0643\u064f\u0644\u0652<\/strong>).<\/p>\n\n\n\n<p>Merasa cemas, Abu Ayyub segera menemui Nabi \ufdfa dan bertanya, &#8220;Apakah bawang putih ini haram?&#8221;. Nabi \ufdfa menjawab, &#8220;Tidak, akan tetapi aku tidak menyukainya.&#8221; Abu Ayyub pun berkata, &#8220;Maka sesungguhnya aku membenci apa yang engkau benci.&#8221; Hadis ini ditutup dengan penjelasan, &#8220;Dan adalah Nabi \ufdfa senantiasa didatangi wahyu.&#8221; (<strong>\u0648\u064e\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u064a\u064f\u0651 \ufdfa \u064a\u064f\u0624\u0652\u062a\u064e\u0649 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u062d\u0652\u064a\u0650<\/strong>).<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pelajaran dan Fikih Hadis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Berdasarkan kedua hadis di atas, Imam an-Nawawi dan para ulama menyimpulkan beberapa pelajaran penting:<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Hukum Dasar Bawang Putih<\/strong>: Penjelasan Nabi \ufdfa merupakan penegasan yang jelas (<strong>\u062a\u064e\u0635\u0652\u0631\u0650\u064a\u062d\u064c<\/strong>) bahwa bawang putih hukumnya halal (<strong>\u0645\u064f\u0628\u064e\u0627\u062d\u064c<\/strong>). Hal ini merupakan kesepakatan para ulama (<strong>\u0645\u064f\u062c\u0652\u0645\u064e\u0639\u064c \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650<\/strong>).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Hukum Makruh dalam Kondisi Tertentu<\/strong>: Memakannya menjadi makruh atau tidak disukai bagi orang yang hendak:\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Menghadiri masjid atau salat berjamaah<\/strong>. Hal ini didasarkan pada hadis lain: &#8220;Barangsiapa memakan dari pohon ini, maka janganlah ia mendekati masjid kami.&#8221;<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Menghadiri perkumpulan umum<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati<\/strong> (<strong>\u0645\u064f\u062e\u064e\u0627\u0637\u064e\u0628\u064e\u0629\u064f \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u0628\u064e\u0627\u0631\u0650<\/strong>), sebagai bentuk penghormatan.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Analogi dengan Makanan Lain<\/strong>: Hukum ini dapat dianalogikan (<strong>\u0642\u0650\u064a\u064e\u0627\u0633\u064c<\/strong>) pada semua makanan atau benda yang memiliki aroma tidak sedap, seperti jengkol, petai, durian (bagi sebagian orang), atau bahkan bau kaus kaki.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kekhususan Nabi \ufdfa<\/strong>: Alasan utama Nabi \ufdfa tidak menyukai bawang putih adalah karena beliau senantiasa berinteraksi dengan malaikat yang membawa wahyu. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, &#8220;Sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan sesuatu yang juga mengganggu anak Adam.&#8221; Karena kedatangan wahyu tidak memiliki jadwal pasti, beliau senantiasa menjaga diri dari aroma yang tidak disukai malaikat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Perbedaan Pendapat Ulama<\/strong>: Para ulama Syafi&#8217;iyah berbeda pendapat mengenai hukum bawang putih khusus bagi Nabi \ufdfa. Sebagian mengatakan haram (<strong>\u0645\u064f\u062d\u064e\u0631\u064e\u0651\u0645\u064e\u0627\u062a\u064c<\/strong>), namun pendapat yang lebih kuat (<strong>\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0635\u064e\u062d\u064f\u0651<\/strong>) adalah makruh, berdasarkan jawaban Nabi \ufdfa sendiri yang secara tegas menyatakan &#8220;tidak&#8221; (<strong>\u0644\u064e\u0627<\/strong>) saat ditanya apakah bawang itu haram.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Adab dan Etika<\/strong>:\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Etika Makan<\/strong>: Dianjurkan bagi seseorang untuk menyisakan sebagian makanan sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas (<strong>\u0645\u064f\u0648\u064e\u0627\u0633\u064e\u0627\u0629\u064c<\/strong>) kepada orang lain, terutama jika makanan tersebut sedikit atau jika pemilik rumah membutuhkannya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Memuliakan Ulama dan Orang Saleh<\/strong>: Kisah Abu Ayyub yang tidak ingin berada di atas Nabi \ufdfa menunjukkan adab yang sangat tinggi dan kewajiban untuk memuliakan orang-orang yang memiliki keutamaan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mencari Keberkahan (<em>Tabarruk<\/em>)<\/strong>: Perbuatan Abu Ayyub mencari bekas jari Nabi \ufdfa adalah dalil bolehnya mencari berkah dari peninggalan (<strong>\u0622\u062b\u064e\u0627\u0631\u064c<\/strong>) orang-orang saleh, namun para ulama menegaskan bahwa keberkahan yang hakiki pada peninggalan fisik hanya terkhusus pada peninggalan Nabi \ufdfa.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bukti Cinta Sejati<\/strong>: Pernyataan Abu Ayyub, &#8220;Aku membenci apa yang engkau benci&#8221; (<strong>\u0625\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a \u0623\u064e\u0643\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0643\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f<\/strong>) adalah manifestasi dari cinta yang tulus (<strong>\u0635\u0650\u062f\u0652\u0642\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u062d\u064e\u0628\u064e\u0651\u0629\u0650<\/strong>), yaitu mencintai apa yang dicintai oleh orang yang dikasihi dan membenci apa yang ia benci.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Penutup<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Hadis-hadis ini tidak hanya menjelaskan status hukum sebuah makanan, tetapi juga mengajarkan tentang kepekaan sosial, adab, penghormatan, dan kedalaman cinta para sahabat kepada Rasulullah \ufdfa. Semoga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberikan kita kemudahan untuk meneladani sunah-sunah beliau dalam setiap aspek kehidupan kita.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Wall\u0101hu a&#8217;lam bi\u1e63-\u1e63aw\u0101b.<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"\ud83c\udfa5 LIVE Syarah Shahih Muslim bersama Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA\" width=\"1200\" height=\"675\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/o367O1ClG3w?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismill\u0101hirra\u1e25m\u0101nirra\u1e25\u012bm Kajian Hadis: Hukum Memakan Bawang Putih dan Etika Terkait Penjelasan dari Kitab Al-At&#8217;imah dalam Sahih Muslim Berikut adalah pembahasan terstruktur mengenai hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum memakan bawang putih, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Kitab Al-At&#8217;imah (Kitab Makanan) dari Sahih Muslim. Pendahuluan Kajian ini membahas bab tentang kebolehan memakan bawang putih (\u0627\u0644\u062b\u064f\u0651\u0648\u0645\u064f) dan anjuran untuk &#8230; <a title=\"Kitab Al-At&#8217;imah dalam Sahih Muslim &#8211; Bab Bolehnya memakan bawang putih\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/2025\/01\/06\/kitab-al-atimah-dalam-sahih-muslim-bab-bolehnya-memakan-bawang-putih\/\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang Kitab Al-At&#8217;imah dalam Sahih Muslim &#8211; Bab Bolehnya memakan bawang putih\">Baca Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3371,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[48,4],"tags":[49],"class_list":["post-3394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian-kitab","category-syarah-shahih-muslim","tag-kitab-syarah-shahih-muslim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3394"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3394\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}