{"id":3300,"date":"2025-06-25T00:14:36","date_gmt":"2025-06-24T17:14:36","guid":{"rendered":"https:\/\/buyaelvisyam.id\/?p=3300"},"modified":"2025-06-25T00:14:36","modified_gmt":"2025-06-24T17:14:36","slug":"hadis-arbain-ke-40-memendekkan-angan-angan-di-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/2025\/06\/25\/hadis-arbain-ke-40-memendekkan-angan-angan-di-dunia\/","title":{"rendered":"Hadis Arbain ke-40: Memendekkan Angan-angan di Dunia"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Hadis ke-40: Memendekkan Angan-angan di Dunia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari Ibnu Umar \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647, ia berkata: Rasulullah \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 memegang bahuku (sebagai bentuk kasih sayang dan kedekatan Nabi), lalu beliau bersabda:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0643\u064f\u0646\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062f\u064f\u0651\u0646\u0652\u064a\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u0643\u064e \u063a\u064e\u0631\u0650\u064a\u0628\u064c \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u064e\u0627\u0628\u0650\u0631\u064f \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u064d<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jadilah di dunia ini seakan-akan engkau itu adalah orang yang merantau atau seakan-akan engkau sedang melaksanakan perjalanan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Mendengar nasihat ini, Ibnu Umar \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 berkomentar:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0645\u0652\u0633\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e\u0638\u0650\u0631\u0652 \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u0628\u064e\u0627\u062d\u064e \u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0635\u0652\u0628\u064e\u062d\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e\u0638\u0650\u0631\u0652 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0633\u064e\u0627\u0621\u064e \u0648\u064e\u062e\u064f\u0630\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0635\u0650\u062d\u064e\u0651\u062a\u0650\u0643\u064e \u0644\u0650\u0645\u064e\u0631\u064e\u0636\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u062d\u064e\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650\u0643\u064e \u0644\u0650\u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u0650\u0643\u064e<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jika engkau masuk pada waktu sore, jangan ditunggu-tunggu datangnya subuh. Jika engkau masuk pada waktu subuh, jangan ditunggu-tunggu waktu sore atau petang. Ambillah dari waktu sehatmu untuk waktu sakitmu, dan dari waktu hidupmu untuk kematianmu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Hadis ini merupakan dasar pokok dalam masalah memendekkan angan-angan di dunia. Orang mukmin tidaklah pantas menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal selamanya atau tempat kenyamanan. Hendaklah ia menjadikan dunia ini seakan-akan ia sedang melaksanakan perjalanan. Seperti seorang musafir yang hanya singgah sebentar, pikirannya hanya bagaimana perbekalannya cukup untuk mencapai tujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Wasiat ini sesuai dengan firman Allah \u0633\u0628\u062d\u0627\u0646\u0647 \u0648\u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 dalam Surat Ghafir ayat 39: &#8220;Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah kampung kenyamanan (kampung yang abadi).&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Nabi \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 bersabda: &#8220;Perumpamaanku dengan perumpamaan dunia adalah seperti seorang yang bersafar kemudian beristirahat sejenak di bawah pohon, lalu ia melanjutkan perjalanan dan meninggalkan pohon itu.&#8221; Ini berarti kita hanya singgah sebentar di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi Orang Mukmin di Dunia:<\/p>\n\n\n\n<p>Orang mukmin yang yakin tidak akan berlama-lama di dunia, hendaknya berada dalam salah satu dari dua keadaan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Seakan-akan sebagai perantau (\u063a\u064e\u0631\u0650\u064a\u0628\u064c)<\/strong>: Ia tinggal di negeri orang lain untuk sementara, hatinya tetap terpaut pada kampung halamannya di akhirat. Ia tidak berlomba-lomba membangun kemegahan dunia seperti penduduk asli, melainkan fokus mengumpulkan bekal untuk kembali ke kampung halamannya (akhirat). Allah \u0633\u0628\u062d\u0627\u0646\u0647 \u0648\u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 berfirman: &#8220;Carilah kampung akhirat dengan apa yang Allah berikan kepadamu, dan jangan lupakan jatahmu di dunia.&#8221;\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Siapa yang akhirat menjadi orientasi hidupnya, Allah \u0633\u0628uhane \u0648\u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 akan menjadikan kekayaan di hatinya, mempermudah urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.<\/li>\n\n\n\n<li>Sebaliknya, siapa yang dunia menjadi orientasi hidupnya, Allah \u0633\u0628uhane \u0648\u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 akan menjadikan kefakirannya di hadapan mata, mempersulit urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah digariskan.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Seakan-akan sebagai musafir (\u0639\u064e\u0627\u0628\u0650\u0631\u064f \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u064d)<\/strong>: Ia tidak pernah menetap, hanya singgah sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Hidup di dunia seperti perjalanan menuju kematian. Pikirannya hanya bagaimana mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan tersebut.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Nasihat Ibnu Umar:<\/p>\n\n\n\n<p>Nasihat Ibnu Umar adalah agar kita memanfaatkan waktu sehat untuk beramal saleh sebelum sakit menghalangi, dan waktu hidup sebelum kematian datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Lima Kesempatan Emas (Dari Hadis Ibnu Abbas yang disahihkan oleh Hakim):<\/p>\n\n\n\n<p>Nabi \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 bersabda: &#8220;Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima (rintangan):&#8221;<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Masa mudamu sebelum datang masa tuamu.<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Waktu kayamu sebelum datang kefakiranmu.<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Waktu lapangmu sebelum datang waktu sibukmu.<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu.<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai dan tertipu: waktu sehat dan waktu lapang. Oleh karena itu, wajib bagi orang mukmin untuk bergegas melaksanakan amal saleh sebelum tidak mampu atau ada penghalang. Jika kesempatan terlewat, hanya akan tersisa penyesalan.<\/p>\n\n\n\n<p>Allah \u0633\u0628\u062d\u0627\u0646\u0647 \u0648\u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 menceritakan tentang penyesalan orang di akhirat dalam Surat Az-Zumar ayat 54-58 dan Al-Mukminun ayat 99-100. Mereka ingin kembali ke dunia untuk beramal saleh, namun itu mustahil. Penyesalan di kuburan tidak ada gunanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Surat Al-Munafiqun ayat 10-11, Allah \u0633\u0628\u062d\u0627\u0646\u0647 \u0648\u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 mengingatkan bahwa amalan terbesar yang dapat dilakukan adalah bersedekah dengan harta. Ketika kematian datang, orang akan berkata: &#8220;Ya Allah, kalau seandainya bisa Engkau tangguhkan barang sejenak, aku ingin bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh.&#8221; Ini menunjukkan betapa besar nilai sedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta, melainkan memindahkannya ke dalam pembukuan akhirat.<br><br>\ud83d\udfe4 Tanya Jawab Lanjutan Kajian<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <strong>Apakah Kesalahan karena Ketidaktahuan Termasuk Dosa Jariyah Jika Diikuti Orang Lain?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika seseorang melakukan kesalahan <strong>karena tidak tahu<\/strong>, lalu orang lain menirunya, maka:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ia <strong>tidak berdosa<\/strong> jika benar-benar tidak tahu dan tidak sengaja menyebarkan kesalahan.<\/li>\n\n\n\n<li>Namun, jika setelah tahu bahwa itu keliru <strong>tidak meluruskan<\/strong> atau tetap menyebarkan, maka bisa menjadi dosa jariyah karena menyebabkan orang lain tersesat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. <strong>Apakah Ada Kisah Orang Hilang Dibawa Jin?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pertanyaan: <em>&#8220;Apakah dalam sirah nabawiyah ada kisah orang hilang dibawa jin sehingga tidak ditemukan?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Jawaban: Tidak ada kisah semacam itu dari sahabat. Namun, ada riwayat bahwa <strong>Nabi \ufdfa pernah dibawa oleh para jin<\/strong> untuk berdakwah.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun manusia yang hilang dan <strong>diisukan dibawa jin<\/strong>, <strong>tidak ada riwayat sahih<\/strong> yang menguatkan hal tersebut. Maka, dalam hal seperti ini <strong>tidak perlu berspekulasi<\/strong>, cukup bertawakal dan bersandar kepada Allah.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. <strong>Hukum Boncengan dengan Saudara Sesusuan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika seseorang boncengan dengan <strong>perempuan yang merupakan saudara sesusuan<\/strong>, maka:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>\u064a\u064f\u062d\u064e\u0631\u064e\u0651\u0645\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u0636\u064e\u0627\u0639\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u064a\u064f\u062d\u064e\u0631\u064e\u0651\u0645\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0633\u064e\u0628\u0650<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Diharamkan karena susuan sebagaimana diharamkan karena nasab.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Artinya, saudara sesusuan <strong>sama hukumnya<\/strong> dengan saudara kandung. Maka <strong>tidak masalah<\/strong> jika boncengan selama tetap menjaga adab.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. <strong>Mana yang Didahulukan: Tamu atau Salat Berjamaah di Masjid?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika akan salat ke musala lalu datang tamu:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u27a4 <strong>Tetap pergi salat<\/strong>, dan <strong>ajak tamu ke masjid<\/strong>.<br>Ini adalah cara terbaik menggabungkan dua kebaikan: menjaga tamu dan salat berjamaah.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. <strong>Apa yang Lebih Dicintai: Harta Ahli Waris atau Harta Kita?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Nabi \ufdfa bersabda:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><em>&#8220;Harta kamu adalah apa yang kamu makan, pakai, atau infakkan. Adapun yang kamu simpan, itu adalah milik ahli warismu.&#8221;<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Maka, <strong>gunakanlah harta<\/strong> untuk amal saleh selama masih hidup. Jangan semuanya ditabung untuk keturunan, sementara diri sendiri <strong>tak punya bekal akhirat<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. <strong>Bolehkah Mengikuti Pendapat Ulama yang Lemah karena Dalilnya Lemah?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika Anda tahu suatu pendapat <strong>berdalil lemah atau bertentangan dengan Al-Qur\u2019an dan Sunnah<\/strong>, maka <strong>tidak boleh diikuti<\/strong>, walaupun itu berasal dari ulama.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, jika kedua pendapat punya <strong>landasan dalil<\/strong>, walaupun berbeda:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kita <strong>bisa menghormati perbedaan<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li>Tapi wajib <strong>mengambil yang lebih kuat<\/strong> sesuai pemahaman kita terhadap dalil.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Contoh:<br>Masalah tawaf, apakah harus wudhu atau tidak?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Jumhur ulama: harus dalam keadaan suci.<\/li>\n\n\n\n<li>Pendapat lain (misal Ibn Taimiyyah): tidak disyaratkan wudhu.<br>\u2192 Jika terjadi kasus darurat (batal wudhu saat tawaf), maka <strong>ada ruang kemudahan<\/strong> mengambil pendapat yang lebih ringan untuk kondisi tertentu.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. <strong>Apakah Takdir Bisa Berubah Jika Kita Serius Beramal?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>\u0631\u064f\u0641\u0650\u0639\u064e\u062a\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0642\u0652\u0644\u064e\u0627\u0645\u064f \u0648\u064e\u062c\u064e\u0641\u064e\u0651\u062a\u0650 \u0627\u0644\u0635\u064f\u0651\u062d\u064f\u0641\u064f<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Pena telah diangkat, lembaran telah kering.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Artinya: <strong>takdir sudah ditulis, tidak berubah<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, <strong>kita diperintahkan untuk beramal<\/strong>, dan usaha kita bagian dari takdir.<\/p>\n\n\n\n<p>Misal:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Seorang pejabat yang bekerja <strong>ikhlas karena Allah<\/strong>, maka urusannya dipermudah, amanahnya berkah.<\/li>\n\n\n\n<li>Seorang yang <strong>mengejar jabatan duniawi semata<\/strong>, maka jiwanya sempit, penuh kecemasan dan sering gagal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penutup<\/h2>\n\n\n\n<p>Kajian ini ditutup dengan pengingat dari Al-Qur\u2019an bahwa:<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u064a\u064f\u0636\u064e\u0627\u0639\u0650\u0641\u064f \u0644\u0650\u0645\u064e\u0646 \u064a\u064e\u0634\u064e\u0627\u0621\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0648\u064e\u0627\u0633\u0650\u0639\u064c \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0645\u064c<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p><strong>\u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u062a\u064f\u0642\u064e\u062f\u0650\u0651\u0645\u064f\u0648\u0627 \u0644\u0650\u0623\u064e\u0646\u0641\u064f\u0633\u0650\u0643\u064f\u0645 \u0645\u0650\u0651\u0646\u0652 \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064d \u062a\u064e\u062c\u0650\u062f\u064f\u0648\u0647\u064f \u0639\u0650\u0646\u062f\u064e \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Apa yang kalian persembahkan untuk diri kalian berupa kebaikan, kalian akan temukan di sisi Allah.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hadis ke-40: Memendekkan Angan-angan di Dunia Dari Ibnu Umar \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647, ia berkata: Rasulullah \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 memegang bahuku (sebagai bentuk kasih sayang dan kedekatan Nabi), lalu beliau bersabda: \u0643\u064f\u0646\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062f\u064f\u0651\u0646\u0652\u064a\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0623\u064e\u0646\u064e\u0651\u0643\u064e \u063a\u064e\u0631\u0650\u064a\u0628\u064c \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u064e\u0627\u0628\u0650\u0631\u064f \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u064d &#8220;Jadilah di dunia ini seakan-akan engkau itu adalah orang yang merantau atau seakan-akan engkau sedang melaksanakan &#8230; <a title=\"Hadis Arbain ke-40: Memendekkan Angan-angan di Dunia\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/2025\/06\/25\/hadis-arbain-ke-40-memendekkan-angan-angan-di-dunia\/\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang Hadis Arbain ke-40: Memendekkan Angan-angan di Dunia\">Baca Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3658,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,62],"tags":[],"class_list":["post-3300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hadits","category-kitab-hadits-arbain-an-nawawiyah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3300"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3300\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.elvisyam.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}